Powered By Blogger

Tuesday, April 12, 2011

Karena sebuah chapter di “Marmut Merah jambu”

Bertemu dengannya lewat kata-kata-bagiku juga keajaiban.

Cha, begitu biasa kusapa dia, seorang gadis yang ceria dan punya dunia yang sama sekali berbeda denganku. Secara tidak langsung, aku mengenalnya karena kami mempunyai kisah yang hampir mirip. Aku juga tidak tau, kenapa kami bisa saling berbagi, walau kami belum pernah bertemu. Kadang saling memberi support, di waktu-waktu tertentu apa yang dia rasa, aku juga sedang merasakannya.

Aku ingat, saat pertama kali aku iseng mengetik sebuah judul pada chapter pertama di Buku Raditya Dika yang kelima itu di ”google”, (mungkin lagi nggak ada kerjaan kali ya?) Muncullah blog hapurple di halaman pertama google, sebuah kutipan yang ia suka, kutipan itu juga yang pernah buat aku menghela napas panjang.

Dari situ aku komen postingan Cha, kemudian dia berkunjung ke blog ku, dan mengomentari sebuah posting yang temanya sama. Dari situlah kami tau, kami berada di posisi yang hampir sama. Akhirnya kami saling pasang link. Dan dengan baiknya, semua blog ku di cantumin di blognya :) (makasih cha ^-^)

menurutku, Chapurple adalah seseorang yang menularkan keceriaannya lewat tulisan-tulisannya. Kalau aku…ya.. malah menularkan kegalauan L. Setelah obrak-abrik isi blog dia…aku nemu postingan tentang akun twitter, setelah di twitter ini, aku merasa lebih tau tentangnya…yang mungkin hanya sebatas tau saja. Belum terlalu mengenal… Tapi aku tau, dia adalah teman yang baik. Satu harapanku, adalah bertemu dengannya. Aku ingin bertemu dengan dia yang mempunyai kisah yang sama dan bersama pula mengakhiri cerita dengan tawa.

(Cha, mari kita bungkus kenangan itu, lalu kita simpan di tempat yang semestinya, agar tak mengganggu jalan panjang yang akan kita tempuh, kamu sudah beres-bereskan?)

#semangat untuk cha yang sedang berjuang!!

Temanmu...

Nesti

Sunday, April 10, 2011

Seperti Pelangi

Kita tidak sama, tapi saling berdampingan membentuk gradasi warna yang menawan, Seperti pelangi

Warna-warna ini tak terdefinisi, dan hanya kita yang mampu memaknainya…

Perbedaan sering kali muncul, Tapi bukan alasan untuk menjalaninya bersama bukan?

Kawan, waktu bersama mu adalah waktu yang berharga

Karena pada waktunya nanti, kita tau pelangi akan pudar, Mau tidak mau akan terdesak oleh matahari yang semakin tenggelam atau hujan yang lama-kelamaan reda.

Dua, tiga atau lima tahun lagi, mungkin hanya hujan dan matahari yang lain yang akan menyatukan nyata setiap kita.

Topsy turvy, Kebersamaan kita mungkin seperti pelangi, lama-lama akan hilang, dipisahkan ruang dan waktu, tapi hati kita tidak akan lupa bagaimana kita menjalani hari bersama dengan segala campuran rasa, bahagia, sedih, haru, atau bahkan rasa lelah.

Dan tanpamu, tidak akan ada pelangi seindah ini…

“Our togetherness maybe will last, But our friendship will never end”

Topsy Turvy

Wednesday, April 6, 2011

My thousand miles friend

Ini tentang pertemanan yang berawal dari dunia yang menghubungkan banyak orang, tanpa kenal jarak.

Aku mengenalnya lewat sebuah chatroom. Bagiku dia sama seperti teman yang lain, hanya saja kami berjauhan. Mungkin akan terlihat aneh karena aku sampai menuliskannya. Aku sudah minta ijin untuk menulis tentangnya, tapi dia pesan untuk mencantumkan yang baik-baik saja. Ok deh… *-^

“Apa kabar mu dyt?”

Sesekali aku mengirimkan pesan padanya, hanya untuk tau kabarnya, dia juga sebaliknya begitu.

Sebuah pertemanan yang sederhana, sebatas saling sapa di kala senggang dan kadang kami ngobrol panjang lebar walau lewat sms atau chatting. Karena lingkungan kami sangat berbeda, mungkin dengan begitu cara kami berpikir juga berbeda. Dia punya cara pandang lain, tapi bukan berarti tidak bisa saling berteman kan?

Dia, aku mengenalnya sudah hampir tiga tahun. Aku ingin bercerita, bagaimana kami bisa bertemu. Saat itu, aku sedang hobi chatting, sampe jam empat pagipun menyempatkan diri untuk chatting. Begitu masuk si chatroom, Cuma ada nickname yang muncul : shanfoe.

Mulai dari tegur sapa basa-basi sampai membicarakan ini itu seperti teman biasa. Akhirnya kita simpan di kontak nickname masing-masing.

_sebatas itu_

Jeng-jeng-jeng

Aku tidak pernah berharap bisa bertemu dengannya, sampai suatu saat pada bulan Juli 2010..lama tak mendengar kabarnya, dia update status di FB: lampung.

Dan dari situ, akhirnya aku tau, dia sedang menuju Jambi dan singgah di Lampung, tapi sayang sekali, saat itu aku sedang tidak di Bandar Lampung, jadi tidak bisa bertemu.

Ternyata kesempatan datang dua kali, dia singgah lagi saat perjalanan pulang. Dag-dig-dug…. Bertemu dengan seorang yang kita kenal dari kata-katanya, namun tidak secara nyata, mungkin selalu tidak biasa (MUNGKIN). Takut nggak nyambung, tapi setelah kami bersalaman dan ngobrol…ternyata….dia sama seperti waktu di chatting, jadi kami seperti teman lainnya, bicara ini-itu tanpa canggung.Ketawa-ketiwi…

sampai akhirnya dia harus kembali ke semarang, dan kami belum pernah bertemu lagi sampai saat ini. Jarak bukan alasan untuk kita menjalin pertemanan.

Untuk Andyt: makasih ya..waktu itu menyempatkan dua jam untuk bertemu denganku… satu kali itu bagiku sangat berharga kawan.

(tak susah mengingat mu, karena kamu mirip sepupuku, he..)

(Makasih untuk ijin nulis nya ya…_

-Semangat!!-


Ditulis pada 3/27/2011

12:07:46 AM

Saturday, April 2, 2011

Tentang Mimpi-Mimpi















aku dan Dinar…sesederhana ini “menikmati kota Bandar Lampung, dengan cara yang tidak biasa kami lakukan.” Karena Bandar Lampung bukan kota wisata, jadi sedikit sulit untuk menemukan tempat yang memang benar-benar untuk wisata. Jadi mimpi sederhana kami adalah..menyusuri jalanan…(udah kayak apa aja ini..) Ide ini spontan di bahas hari sebelumnya, “yuk keliling bandar lampung besok” ajak Dinar . Dan hari itu, 30 Maret 2011 udah bukan mimpi lagi. Dari kampus ke arah jalan raya, kita jalan kaki..sambil servis hp Dinar. Lantas, di perjalanan tiba-tiba kami ingat ada museum lampung, letaknya dekat sekali dengan kampus. Tapi selama hampir tiga tahun di sini, aku belum pernah kesana. Terakhir kesana SMP kalau nggak salah. (kasian banget museumnya dicuekin.hiks) Kita nggak masuk si sebenernya, cuma foto-foto di luarnya. Pokoknya hari itu kita kayak bukan di kota sendiri, serasa lagi jadi traveller gitu deh.

Setelah museum Lampung, kita ke gedung Juang 45. Kami berdua bingung ini bangunan apa ya? Kok namanya bagus… Setelah di baca plang tulisannya, kok kantor hukum..(??) Sekali lagi cuma foto-foto.Kemudian di lanjutkan ke tempat-tempat disekitarnya, jadi tinggal jalan kaki aja.


Dan tujuan utama nya adalah jeng jeng jeng..apa coba?? “ BUNDERAN GAJAH” #random banget kan?? Jadi kita foto-foto dengan pedenya, kadang ada yang nengok, kadang ada yang senyum-senyum liat kami. Prinsipnya yang penting bukan orang yang kami kenal. Cuma beberapa menit di bunderan Gajah…siang itu mendung dan sedikit gerimis..tapi gerimis kan romantis…hehehe. Lanjutin perjalanan, naik angkot ungu. Ke sekitar Masjid Al-Furqon. Foto-foto di dinding jalan yang bermotif tapis…Dan karena kaki udah cenat-cenut..kami istirahat di masjid…di salah satu sudut… “kami senyum-senyum lagi” Tidak menyangka bisa juga keliling kota dan naik becak sekali( seperti naik becak itu sebuah hal terkeren aja ^-^).

Hmm di sudut masjid,… kami teringat mimpi lain…Mimpi tentang perjalanan yang lebih jauh dari yang pernah kami lakukan. Mimpi untuk berdiri disuatu tempat tertinggi yang mungkin kami bisa capai. Mimpi bermalam di suatu desa…dengan tenda yang terletak di sebuah danau… Ranu Pane namanya… Ini mimpi kami…hal yang selalu membuat kami tersenyum walau belum jadi kenyataan. Perjalanan ke Jawa Timur itu, mungkin akan jadi perjalanan terakhir sebelum kami menjalani hidup masing-masing. Dinar dan aku... ya, mungkin hanya berdua saja… Tapi akan lebih bahagia kalau teman-teman Topsy Turvy bisa ikut. “Semeru tak terdaki oleh kami yang notabene bukan anak pecinta alam, cukup gunung terdekatnya saja…

Rencana Perjalanan panjang ini, akan kami mulai pada bulan Desember 2012. Menunggu ritual kasodo, dan juga menunggu kami wisuda.

Kata terakhir diatas adalah kunci dari perjalanan ini. Perjalanan yang merupakan Sebuah perayaan, dan juga mungkin perjalanan pelepasan.

“mimpi itu gratis, yang tidak gratis adalah mewujudkannya”

Dan aku kembali teringat tentang skripsi…

“aku ingin berada dipuncak itu, bersamamu”

(Kenapa aku menuliskannya diblog, seolah-olah ingin semua orang tau??, bukan, bukan karena itu… Aku hanya ingin selalu mengingatkan diriku sendiri, kalau aku harus bisa mewujudkannya).